PSBB HARI I : SOAL DATA
Kita sedang perang! Kita sedang menghunus pedang! Kita sedang tiarap!
Kita sedang di pengungsian! Bedil dan mesiu meletus dimana-mana. Ada
yang menceret hingga serawa kotok berair, ada yang menjerit, ada yang
melenguh, ada yang kentutnya menggeporoh dalam serawa gelembong, ada
yang menabuh gendang lalu bernyanyi membangkitkan semangat juang. Lawan!
Ayo lawan! Kalian rakyat menyuruk saja, biar kami yang hadapi lawan!
Dalam keadaan perang kita butuh data, tidak hanya data mereka yang tertembak dan gugur, akan tetapi rakyat yang disuruh "ijok" dan menyuruk agar tidak terpapar mesiu dan bau kentut asam.
Setelah "ijok" bagaimana? Mereka menunggu jatah beras segenggam dua genggam untuk dikunyah dan di mamah selama tiga bulan. Beberapa butir beras mereka harap bisa dikunyah besok pagi.
Gubernur Perang sudah perintahkan kepada Wali Perang segera rakyat yang "ijok" dalam rimba raya persembunyian dapat ransum. Pembagian ransumpun harus rata.
Wali Perang dapat surat sakti, besok ada pembagian jatah. "Siapkan data pengungsi" begitu kira-kira bunyi perintah. Wali Perang gelagapan! Wali Perang gagap! Wali Perang susah tidur dan susah BAB dan disentri karena lambung terkejut! Wali Perang naik darah lalu turun darah lagi!
Data mana? Mana data? Dimana-mana ada data? Ada data dimana-mana? Ah, tapi mana data yang sebenarnya? Siapa yang harus didata? Ah, kepuyuk melintas pula. Hilang kosnsentrasi mengingat data.
Tuan-tuan! Kelemahan kita rupanya soal data. Saat mendesak kita tidak punya data. Terpaksa melakukan pendataan dibawah desingan peluru, martir dan letusan bom. Melakukan pendataan diwaktu perang pasti banyak yang keliru. Orang hidup bisa terdata mati, orang mati bisa terdata hidup. Lalu ransum dibagi dan dalam perang meletus perang kecil-kecil menuntut keadilan ke komandan dapur umum.
Ini pelajaran tuan! Data kita selama negeri aman kemana saja? Atau kita memang tidak pernah melakukan pendataan sama sekali saat negeri tidak perang? Itu yang harus diperbaiki! Pemerintah yang digerakkan dengan dana yang besar selama ini sepatutnya punya data siap pakai. Data yang sudah dikelompokkan berdasarkan kriteria: Miskin, Sedang dan Tidak Miskin. Sehingga dalam situasi darurat tinggal mempergunakan.
Dalam keadaan perang kita butuh data, tidak hanya data mereka yang tertembak dan gugur, akan tetapi rakyat yang disuruh "ijok" dan menyuruk agar tidak terpapar mesiu dan bau kentut asam.
Setelah "ijok" bagaimana? Mereka menunggu jatah beras segenggam dua genggam untuk dikunyah dan di mamah selama tiga bulan. Beberapa butir beras mereka harap bisa dikunyah besok pagi.
Gubernur Perang sudah perintahkan kepada Wali Perang segera rakyat yang "ijok" dalam rimba raya persembunyian dapat ransum. Pembagian ransumpun harus rata.
Wali Perang dapat surat sakti, besok ada pembagian jatah. "Siapkan data pengungsi" begitu kira-kira bunyi perintah. Wali Perang gelagapan! Wali Perang gagap! Wali Perang susah tidur dan susah BAB dan disentri karena lambung terkejut! Wali Perang naik darah lalu turun darah lagi!
Data mana? Mana data? Dimana-mana ada data? Ada data dimana-mana? Ah, tapi mana data yang sebenarnya? Siapa yang harus didata? Ah, kepuyuk melintas pula. Hilang kosnsentrasi mengingat data.
Tuan-tuan! Kelemahan kita rupanya soal data. Saat mendesak kita tidak punya data. Terpaksa melakukan pendataan dibawah desingan peluru, martir dan letusan bom. Melakukan pendataan diwaktu perang pasti banyak yang keliru. Orang hidup bisa terdata mati, orang mati bisa terdata hidup. Lalu ransum dibagi dan dalam perang meletus perang kecil-kecil menuntut keadilan ke komandan dapur umum.
Ini pelajaran tuan! Data kita selama negeri aman kemana saja? Atau kita memang tidak pernah melakukan pendataan sama sekali saat negeri tidak perang? Itu yang harus diperbaiki! Pemerintah yang digerakkan dengan dana yang besar selama ini sepatutnya punya data siap pakai. Data yang sudah dikelompokkan berdasarkan kriteria: Miskin, Sedang dan Tidak Miskin. Sehingga dalam situasi darurat tinggal mempergunakan.

Comments
Post a Comment